Oleh: tirtaamijaya | Mei 9, 2008

SUKADUKA DI AMN…(EPISODE 7/PENERJUNAN UDARA)

Selama tiga tahun tiga bulan boarding school di AMN, tentunya kami kenyang dengan latihan militer, karena pada kurikulum kami saat itu, 60 % mata pelajaran teori dan praktek militer, 40 % teori dan praktek non militer…

Pada tingkat tiga/Sersan Mayor Taruna, kami disiapkan untuk mampu memimpin sebuah pasukan tempur setingkat peleton yang jumlah personilnya terdiri dari 36 orang.

Disamping kwalifikasi infantri biasa, para Taruna AMN angkatan kami (masuk 1962, lulus 1965) diwajibkan mengikuti Latihan Dasar Para untuk mendapatkan Brevet Penerjun Payung Udara/Airborne…agar mampu diterjunkan dari pesawat terbang dalam suatu operasi pertempuran….Maklum pada masa itu pemerintah Indonesia sedang senang betul perang baik dengan Belanda di Irbar dengan Trikoranya dan perang melawan Malyasia dengan operasi Dwikoranya…

Angkatan saya memang sangat spesifik, masuk tahun 1962 persis operasi Trikora dan lulus 1965 dengan Operasi Dwikoranya…makanya para Taruna AMN angkatan saya semua harus berkwalifikasi Para ( Pasukan Penerjun Udara), agar mampu diterjunkan didaerah tempur dengan pesawat terbang…

Latihan Dasar Para/terjun payung udara dilakukan di Pusat Pendidikan RPKAD/Baret Merah di Cijantung Jawa Barat selama 1 bulan penuh, menjelang akhir pendidikan di AMN…biasanya antara bulan Agustus-September ( Pelantikan Perwira pada tanggal 22 Desember)…

Saya akan ceritakan suka duka saya pribadi mengikuti latihan dasar para ini…

Kami dari kelompok Komando Kompi Drumband Qanka Lokananta, diberangkatkan ke Pusdik Para RPKAD Batujajar Jabar, setelah melakukan Kegiatan Pekan Olah Raga Tiga Angkatan ( Porakta) di Kampus AAL Surabaya….Sehingga fisik kami masih sangat lelah….

Sekitar 5 km sebelum pintu gerbang Pusdik Para RPKAD Batujajar, kami diturunkan dari kendaraan yang mengangkut kami, kemudian kami diperintahkan lari campur jalan menuju pintu gerbang dengan membawa seluruh perlengkapan masing masing, berupa ransel dan plunyesak berisi perlengkapan lapangan….sebagai acara ” Selamat Datang”…….Sesampainya di pusdik para, kami ditempatkan dibarak latihan dan tidur  di tempat tidur lapangan……

Besok paginya kami harus bangun subuh jam 4 pagi, terus apel subuh, senam pagi dan dibawa lari keliling kompleks sampa kami teler…..

Setelah itu kami diizinkan mandi dan makan kemudian jam 0700 apel pagi lagi dan mulai rangkaian test mental fisik untuk bisa ikut pendidikan Para/terjun payung…Push up, sit up, pull up, scout jump dan lari lapangan….

Setelah itu kami disuruh naik sebuah menara dengan ketinggian sekitar 40-50 meter…test keberanian diketinggian…Yang tidak sanggup, tidak boleh ikut latihan Para, tidak lulus test…

Saya pribadi tidak ada masalah dengan seluruh test tersebut dan dinyatakan bisa melanjutkan pendidikan Dasar Para di Pusdik Para RPKAD Batujajar…

Kemudian mulailah dilakukan apa yang dinamakan Ground Training, yaitu latihan didarat yang merupakan simulasi pelaksanaan terjun sebenarnya dari atas pesawat terbang yang sedang terbang diudara…

Latihan ini untuk mempersiapkan fisik dan mental kami agar berani meloncat dari pesawat yang sedang terbang dan menguasai tekniknya agar kami bisa selamat sampai didaratan….

Setelah ground training selesai, tibalah saat yang paling mendebarkan, yaitu saat pertama kali meloncat dari pintu pesawat terbang yang sedang terbang tinggi diudara.. dengan beban membawa payung udara dipunggung dan payung cadangan didepan perut yang berat total sekitar 50 kg…

Kalau pembaca pernah melakukan Bungee Jumping di Denpasar Bali, mungkin agak bisa merasakan bagaimana rasa takut kalau akan terjun dari suatu ketinggian sekitar 30 m……dan untuk terjun payung udara kami terjun/melompat dari pesawat dengan ketinggian sekitar 300-350 meter dan kecepatan sekitar 300km/jam. dengan beban sekitar 50 kg dibadan….Kalau ada kesalahan dalam pelipatan payung atau teknik meloncat dari pesawat resikonya sangat tinggi, tubuh cacat atau badan hancur dan mati….

Untuk membangkitkan semangat dan agar hapal apa yang harus dilakukan pada saat kritis diudara, kami diajarkan nyanyian dengan lirik yang dapat sedikit menggambarkan prosedure baku yang harus menjadi instink/naluri para penerjun udara dan suasana hati para penerjun…….., sebagai berikut:

Judul: “PENERJUNAN”

“Bila apel malam telah tiba…

 Segera bacakan penerjunan…

 Hatiku dag dig dug tak karuan…

 Memikirkan nasib seseorang….

     Bila aku peloncat pertama…

     Segera berdiri dekat pintu…

     Pandangan tetap lurus kedepan…

     Sikap exit jangan dilupakan…

Bila payung sudah mengembang…

Segera periksalah keliling…

Hindarkan tabrakan antar kawan…

Tarik kemudi depan belakang…

    Bila payung tidak mengembang…

    Segera cabut payung cadangan….

    Bila itupun tidak mengembang…..

    Serahkan nyawamu pada Tuhan….

    ( Bait terakhir ini sering kami pelestkan menjadi: “Serahkan pacarmu pada teman….”….sekedar untuk bercanda agar tidak terlalu tegang berpikir tentang nasib seseorang…)

Kami selalu nyanyikan lagu ini setiap sebelum apel malam dan pada saat lari keliling kompleks pendididkan terjun…Juga pada saat kami dipesawat sebelum terjun dari pesawat….

Penerjunan yang pertama kali adalah ujian mental yang paling berat bagi setiap calon penerjun payung udara…Setelah namanya dibacakan dalam daftar penerjunan, berbagai reaksi yang terjadi, ada yang berteriak gembira, ada yang diam seribu basa denga muka pucat pasi, ada yang biasa biasa saja…..

Saya termasuk yang biasa biasa saja…rasa takut memang tetap ada, tapi masih bisa dikendalikan…saya selalu berprinsip Do the Best and Let God Take The Rest…..saya selalu melakukan yang terbaik sesuai presedure yang ditentukan oleh para pelatih…kalau nantinya saya harus mati akibat kecelakaan penerjunan, ya itu sudah kehendak Tuhan…bukan salah saya lagi….

Begitu nama saya dipanggil dalam daftar penerjun oleh pelatih, saya langsung bereteriak: “Siap!”…

Kemudian mengambil perlengkapan terjun dari pelatih dan memeriksa ulang seluruh perlengkapan terjun (Payung utama dan cadangan yang sudah terlipat rapih boleh pelatih)…saya periksa bagian luarnya jangan sampai ada orang iseng mengikat karet pengatur lepasnya tali parasut, atau bagian lain yang berubah dan tidak aman….

Kemudian perlengkapan terjun saya bawa ketempat tidur saya dan diatur dengan baik disebelah saya….Kemudian setelah shalat, saya berdoa pada Tuhan agar penerjuana besok pagi berlangsung dengan aman dan lancar….

Besok paginya, setelah apel dan pemeriksaan kesiapan para calon penerjun, kami diangkut ke lapangan terbang Margahayu Bandung dengan truk RPKAD…sepanjang jalan kami terus menerus menyanikan lagu Penerjunan; agar semua prosedure penerjunan menjadi instink dan refleks, tidak usah kami pikir lagi…kadang kadang diselingi lagu mars Taruna Argahantu, lagu perjuangan Halo Halo Bandung dll…

Pada saat mulai berangkat semua suara yang nyani masih bersemangat dan tidak ada yang fales/sumbang….Tapi begitu sampai diarena lapangan terbang, sudah melihat pesawat terbang yang siap mengangkut dan menerjunkan kami, tak terasa suara kami mulai sumbang/fales dan hati mulai dag dig dug…

Begitu kami mulai naik pesawat terbang sesuai dengan urutan penerjunan, kami sudah terdiam seribu bahasa, mulut mulai komat kamit berdoa….sebagian ada yang sibuk bulak balik minta diperiksakan teman dibelakangnya apakah tali temali parasutnya masih tersusun rapih dipunggungnya…Ada yang mau minta izin kencing lagi, tapi sudah dilarang karena sudah naik pesawat, terpaksa nahan kebelet pipis dipesawat…kebeletnya karena ketakutan…

Ada yang pura pura senyum lebar, tapi senyumnya kecut…macam macamlah perilaku kami yang baru pertama kali akan melakukan penerjunan dari pesawat terbang….

Begitu pesawat terbang mengudara, kami siap berdiri dipesawat dengan mencantelkan kabel statik payung udara kami kepada kabel kawat baja yang terletak diatas kepala kami…

Menjelang droping zone/daerah penerjunan, penerjun pertama harus sudah berdiri didepan pintu pesawat, dengan pandangan lurus kedepan agar tidak takut ketinggian pesawat…posisi kepala ditekuk rapat kedagu, kedua tangan memegang pintu yang sudah terbuka, badan jongkok sedikit, kaki kanan siap dilemparkan kedepan begitu ada perintah:”Go !” dari pelatih yang mendampingi/Jump Master..

Paling tegang adalah para penerjun dengan nomor urut pertama, karena ia harus berlama lama berdiri didepan pintu…karena itu biasanya dipilih yang mentalnya kuat betul….sebab kalau dia migok gak berani lompat, yang belakangnya jadi kacau, bisa bertabrakan didalam dan diluar pesawat…

Jadi saat paling kritis untuk suatu penerjunan yang pertama kali adalah saat perintah “GO” dikeluarkan dan semua penerjun harus secepat mungkin terjun keluar dari pesawat setiap satu detik…Kalau ada yang mogok, akan terpaksa ditendang atau dilemparkan dari pesawat terbang, dan posisi exit nya jadi jungkir balik..ini akan berakibat fatal, karena payung udaranya bisa tersangkut dipesawat atau berkembang tidak sempurna, kuncup atau sampai tidak terbuka sama sekali…

Dalam keadaan normal. setelah hitungan ke empat detik, payung akan terbuka sendiri karena tali statiknya memang disangkutkan dipesawat, menarik bagian pelindung kanopi, dan kemudian payung terkembang sempurna dalam hitungan 10 detik….

Tapi kalau terjadi kelainan/eror teknis ataupun personal eror, bisa payung terkembang baru setelah mendekati tanah….itu sering terjadi…akibat kuncup atau payung utama tidak terkembang, terpaksa cabut payung cadangan…

Pengalaman terjun yang pertama kali dari pesawat terbang, tak akan terlupakan seumur hidup…sangat menegangkan…tapi begitu payung terkembang pada detik keempat, dimana terasa sentakan dipunggung akibat tarikan payung yang mulai terkembang, sampai terkembang sempurna pada hitungan detik ke 10 sampai 20, lalu melihat keliling, tampak pemandangan indah daerah penerjunan dari ketinggian 300 meter….yang lebih nikmat adalah perasaan lega, lolos dari maut….kami terpana beberapa detik untuk meyakinkan bahwa payung kami betul terkembang sempurna dan sementara waktu selamat…..Setelah yakin itu, mulai kami direpotkan dengn arah angin yang meniup kami dan usaha agar jangan tabrakan dengan payung teman yang duluan dan yang belakangan terjun…

Setelah lolos dari kemungkinan tabarakan, lalu disibukan agar kami bisa mendarat di droping area, jangan sampai terbawa ketiang listrik tegangan tinggi yang mematikan dan atau kebun salak yang penuh durinya…

Pada saat itu payung kami masih tipe D1, besar, tidak ada lubang anginnya, sehingga sangat sulit dikendalikan…mirip payung untuk barang saja….sehingga walau kami berusaha keras mengarahkan ke daerah pendaratan yang aman, tapi kalau angin sedang relatif kencang, tetap saja kami terbawa angin jauh dari droping zone, ada yang masuk perumahan/diatas genting, ada yang nyangkut dipohon salak, ada yang nyaris terkena kabel tegangan tinggi….

Jadi setiap penerjunan, kami berdoa agar anginnya sangat tenang, atau tidak ada angin sama sekali…bisa menikmati melayang layang diudara tanpa ketakutan terbawa angin ketempat berbahaya….

Alhamdulilah, selama 6 kali penerjunan wajib kami, saya selamat tak pernah mendapat kesulitan yang serius…palin sial hanya bterseret angin didroping zone, belum pernah mengalami jatuh dan terkena duri pohon salak ataupun jatuh diatas genting rumah penduduk….

Penerjunan yan terakhir, walau sudah berkurang rasa takutnya, tapi karena berkaitan dengan nyawa, rasa cemas naik lagi, karena memikirkan bahwa jangan sampai sudah capai latihan, gagal dipenerjunan terakhir dan bukan pulang sudah pakai wing didada kiri, tapi pulang hanya nama saja….apalagi pada saat upacara penyematan wing para, kami diizinkan mengundang keluarga terdekat untuk menyematkan wingnya…dan saya sudah meminta pacar saya untuk datang (SNT) dari Jakarta…

Tapi atas izi Allah penerjunan saya yang keenam kalinya/terakhir, berjalan mulus dan selamat….justru saya bisa menikmati enaknya melayang layang diudara melihat pemandangan indah daerah Batujajar….menikmati lolos dari maut…

Setelah mendarat dengan aman, saya jadi mengerti mengapa ada orang yang kecanduan terjun bebas sampai ratusan kali…mereka sudah bisa menikmati mengalahkan rasa takut mati dan yang terasa adalah kenikmatan yang sulit dillukiskan dengan kata kata…Lalu sayapun berkata dalam hati, bahwa bila ada kesempatan dilain kali, saya ingin melakukan penerjunan yang lebih profesional dari udara sebanyak mungkin, seperti para penerjun profesional…..

Ternyata niat saya ini bisa terwujud setelah saya lulus AMN dan berpangkat Letnan Dua CPM, saya dikirim oleh kesatuan untuk mengikuti latihan Pathfinder/Pandu Udara/Paratroop Comando pada tahun 1967….di Pusdik Para RPKAD, Batujajar…( akan saya ceritakan dilain waktu…)

   

 

 

 


Tanggapan

  1. Assalamuallaikum,

    bagaimana kabarnya pak? baik2 saja bukan? dah lama sy tidak ngisi comment nih. omong-omong seru juga ya menjadi taruna. pengen juga sih sebenernya, tapi selepas lulus dari sma tahun lalu saya tidak mencoba daftar ke akmil, fokus untuk melanjutkan ke PT. ada juga teman sma se angkatan saya yang diterima masuk akmil, ceritanya memang seru-seru, tapi kok anaknya jadi tambah pendiem dan (maaf) kata temen sy yang lain juga agak kayak robot alias jadi agak kaku gitu, hehe… mungkin pengaruh didikan di sana ya. sebenarnya mau juga sih coba daftar, tapi agak sayang meninggalkan “kampus biru”, soalnya kemaren juga masuknya lumayan susah sih, hehe.

    sekian, pak.

    Wassalam .

  2. seto, asswrwb…

    Emang, jadi taruna enak kalau hanya melihat tongkrongan atau ceritanya, seru untuk didengar atau dibaca atau ditonton…tapi gak enak buat yang mengalaminya…makanya kalau ada yang berubah jadi kayak robot jangan kaget…mungkin masih dalam masa adaptasi…

    Sebenarnya kalau saya lihat para taruna AMN masa kini sudah jauh lebih bebas dari zaman saya tahun 1963 an dulu…Betul betul mirip robot, terutama taruna tingkat satu…

    Mengapa begitu? …Karena ada kode etik taruna AMN yang serba gak boleh ini dan gak boleh itu, contohnya:
    gak boleh jalan sambil toleh kiri.kanan, gak boleh ngobrol sambil jalan, gak boleh naik beca, gak boleh jajan dikaki lima, gak boleh buka tutup kepala dimuka umum, gak boleh tertawa terbahak bahak, gak boleh jalan bersama lebih dari dua orang, gak boleh lambaikan tangan tanda sok akrab sama orang, gak boleh peluk pacar sambil jalan (ditempat tersembunyi sih …siapatahu kan?) dll..
    Belum lagi dengan berbagi harus ini dan itu….semua pelanggaran saat cuti, kalau ada yang lapor ke Lemdik, yang bersalah akan dihukum keras…bisa bisa dipecat…repot kan ?

    Kalau anda hanya lihat seru dan enak atau hebatnya sih lebih baik jangan masuk AMN deh, ingat peribahasa: Dont judge the book from the cover….jangan mengambil kesimpulan hanya dari penampakan luarnya deh….sebab yang sebenarnya kehidupan di AMN itu sangat berat, kaya dipenjara…
    Saya pernah kuliah di Fakultas ekonomi Unpad Bandung satu tahun, pernah di AMN 3 tahun 3 bulan, jadi bisa membedakannya…

    Tapi kalau anda sudak muak dan bosan dengankebebasan hidup di universitas sipil dan betul betul ingin mencoba kehidupan lain yang lebih berat dan terpenjara, tapi masa depan lebih pasti, ya silahkan masuk AMN…Baru itu cocok…ok?

  3. odyssey says : I absolutely agree with this !

  4. sore om..

    Aq sk bgt bc CriTa ttg Sk dk di AMN,,
    Aq juga punya temen deket yang baru lulus masuk dsn Juli 2008 kmren,,
    Mungkin skrg dia lagi susah2 ya disana..
    Aq kangen banget sm dia om…hehehe,,
    O iya om..
    Bntar lagi kan lebaran,,
    Temen saya dpt kompensasi pulang ke Bali ga ya??
    Kalo dulu om gmn??

    dibalez ya om .. Makasi

  5. Ass. om klo lg ada waktu luang, ceritanya lajutin lagi…seru tuch bikin semangat menggebu-gebu.
    oh iya sekalian ceritakan tentang kejayaan TNI di era 60′an. terima kasih…
    wassalammualaikum

  6. daim, asswrwb…

    wah kalau mau cerita yang seru seru sebagai militer, banyak sekali….

    om tunda dulu takut pembaca bosan…

    sekarang peminat banyak urusan masuk akmil dan masalah stress kehidupan yang mengakibatkan psikosomatis dll…kasian, mereka dulu yang om layani…sekedar ibadah…

    om sebenarnya sudah tulis di laptop, tapi disimpan dulu…tahu hukum Gossen kan?… nanti kalau ditulis terus yang baca kekenyangan dan gak haus mau baca artikel om…sabar ya..

  7. Siap…!!!
    Kolonel….

  8. Ass Wr WB..
    Oom..Blognya bagus, saya sangat suka membaca tulisan2 mengenai AMN nya (tulisan2 lain belum sempat saya baca), kebetulan saya “pecinta” dunia militer (walaupun saya seorang sipil)
    Saya tunggu tulisan2nya yang lain mengenai militer dan kehidupan serta intrik2nya ya Oom…
    Maaf, mohon ijin bertanya, waktu di AMN, apakah satu angkatan dengan Pak Djoko SM? terakhir beliau adalah KaDis Penerbad (sekarang PusPenerbad)
    Terima kasih Oom

  9. assalamualaikum pak nurhana,
    saya sekedar ingin tanya” pak..
    kok dulu bapak bisa masuk ke CPM?
    bukannya jenjang karir di CPM itu tidak terlalu bagus pak? beberapa perwira CPM di keluarga besar saya cuma pensiun paling tinggi di pangkat kolonel pak, itu pun yg karirnya termasuk bagus..
    terimakasih pak, wassalamualaikum.

  10. Pak, kok yg episUd 6 gag ada ceritanya???
    saya cari2 gak ketemu tu pak. Mungkin belum di rilis kalee pak ya

  11. Salam kenal Bapak. Saya tertarik dengan kisah-kisah yang Bapak tulis apalagi pengalaman pribadi sendiri. Sangat mengasikkan. Saya suka membaca kisah-kisah di dunia militer dan intelijen. Hawit basima chim raba !

  12. Oom…
    Kakak aku lagi PARA nich…
    doain selamet ya…
    rasa kangen pasti dateng kalau sesorang yang kita sayang ditempat yang jauh tanpa alat komunikasi…

    medh berjuang sebagai Tentara ya oommm….
    hohohohoho


Beri tanggapan

Your response:

Kategori