Oleh: tirtaamijaya | Mei 21, 2008

SUKA DUKA MENJADI PENGAWAL BUNG KARNO DI ISTANA BOGOR

Atas permintaan beberapa pembaca yang ingin tahu bagaimana pengalaman saya pada saat menjadi pengawal Bung Karno sebagai tahanan politik di Istana Bogor pada tahun 1968…

Bagi perwira muda yang baru lulus tahun 1965, kemudian mengikuti pendidikan kecabangan Corps Polisi militer selama 6 bulan dan baru dinas aktif sebagai komandan peleton pasukan polisi militer Jon Pomad Para yang menggantikan Cakra Birawa pada tahun 1966 akhir(…Pada saat itu presiden RI nya masih Bung Karno…), perubahan peta politik saat itu tentunya agak membuat shock juga..

Bayangkan pada tahu 1967 sebagai Komandan Kawal Depan Konvoi RI I, saya berada diatas jeep putih di urutan konvoi kepresidenan RI paling depan, memimpin pengawalan kehormatan/mengawal presiden RI Bung Karno, dengan segala kehebatan dan wibawanya, ….tiba tiba tahun berikutnya, tahun 1968,  saya menjadi komandan peleton pengawal istana Bogor, dimana Bung Karno berstatus sebagai tahanan politik yang harus saya amankan dari kemungkian dibunuh lawan oplitiknya, sekaligus juga menjaga beliau agar jangan melakukan kegiatan politik terselubung lewat isterinya…..ibu Hartini Soeharno yang mendampingi beliau di Istana Bogor….

Tentunya terjadi konflik batin dalam diri saya, bagaimana saya harus bersikap tegas terhadap mantan presiden RI yang saya kagumi dan banggakan, tapi sekarang telah berubah menjadi tahanan yang harus saya selamatkan jiwanya dan saya awasi gerakan politiknya….

Tentunya pula, tingkah laku saya dan teman teman sekompi penugasan kawal istana Bogor selalu diawasi oleh tim intelijen Satgaspomad/pengganti Cakrabirawa…agar kami jangan lengah dan juga jangan sampai memberikan peluang kepada BK melakukan Gerpol…

Kami para Danton di Kompi Pengawal Istana Bogor selama sekitar satu tahun (1968-1969), bergiliran bertugas jaga selama satu bulan nonstop ( tahun 1969 Bung Karno minta pindah ke Wisma Yaso JKT).. Selama terkena giliran tugas pengawalan BK ( tugasnya satu bulan nonstop, naik lagi bulan ke 4), kami juga menginap di istana Bogor…

Pada saat menginap diistana Bogor itulah kami berkesempatan akrab dengan keluarga Bung Karno, terutama ibu Hartini dan putra putrinya….

Pada situasi tertentu, mungkin kalau Bung Karno sedang jenuh dan butuh teman bicara, kami para komandan kawal istana Bogor, bergantian, sering diajak makan malam bersama BK dan ibu Hartini, biasanya dilanjutkan dengan main kartu remi yang disebut kartu tiga (yang dibagikan tiga kartu) seperti main kartu 41- an (kartu lima)…tapi tentunya tanpa taruhan apa apa….

BK, tidak banyak bicara, apalagi masalah politik, hanya urusan basa basi layaknya bapak dengan anak saja…Beliau nampak masih sangat sehat walafiat….waktu itu..(jauh berbeda dengan sudah berada di Wisma Yaso JKT…sakit dan meninggal tahun 1970…)

Saya pribadi serasa dalam kedaan mimpi, bisa duduk makan malam bersama, hanya bertiga saja, saya, BK dan ibu Fatmawati dimeja makan, kemudian main kartu bertiga pula, sampai beliau cape dan mengantuk….

Peristiwa tersebut secara tidak saya sadari telah mengajarkan pada diri saya bahwa betapa kekuasaan manusia itu tidak kekal adanya…Nothing Last Forever….tidak ada sesuatu yang abadi didunia ini….suatu saat beliau di puja sanjung oleh seluruh rakyat Indonesia, bahkan oleh dunia, pada kesempatan lain beliau menjadi seorang tahanan dari seorang komandan kawal depan konvoi kehormatan kepresidenannya….sebuah ironi kehidupan…

Peritiwa ini pula yang selalu mengingatkan saya, pada saat saya menjadi komandan polisi militer dimanapun sepanjang karier kemiliteran saya, jangan sampai saya suatu saat menjadi komandan penegakan hukum dan ketertiban dilingkungan ABRI, dikesempatan lain justru saya menjadi tahanan para anak buah saya karena berbuat kesalahan yang fatal…

Peristiwa ini juga menjadikan saya lebih merasakan adanya kekuatan Allah, kekuatan maha besar yang tak terlawan oleh kekuatan manusia sehebat Bung Karno pun, yang bisa terjadi setiap saat Allah menghendakiNya….

Dari sinilah awal pendalaman spiritual dalam kehidupan saya…berusaha mendalami rahasia kebesaran Allah SWT…Apalagi dari BK lah saya mendapatkan sebuah buku yang berjudul “The Magic Power Of Our Mind” (Terjemahan bebasnya “Kehebatan Alam Fikiran”)…

Buku koleksinya BK tersebut saya pelajari sendiri bertahun tahun, walau beliau sudah wafat pada tahun 1970…Dari buku itulah saya mengenal dan mendalami “Kehebatan Alam Fikiran”…yang sekarang muncul lagi dalam sebuah buku yang berjudul”The Secret” ( Rahasia Kehidupan) dengan cara pengungkapan yang berbeda…..dan menjadi Best Seller…


Tanggapan

  1. Haloo lagi om.. artikel om membuat saya makin termotivasi untuk membuat hidup lebih berarti… baik untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

    Makasih oom moga sehat wal afiat selalu. Tulisan om saya tunggu lagi.. Salam Buat keluarga

  2. Sejarah yang sama berulang, rata2 pemimpin bangsa ini mengakhiri mas tugasnya dengan “tragis” atau ironis…
    Saya belum bisa menarik benang merahnya para pemimpin itu apakah krn kesalahannya yang fatal atau memang sejarah politik di Indonesia memang seperti itu caranya,
    Menurut saya pedekatan khusnul khatimah itu yang sebaiknya dipakai, tipa periode dalam kehidupan manusia ada tingkatannya, tingkatan terakhir merupakan fase terpenting dalam kehidupannya, Finishingnya yang penting, tentu saja semuanya tergantung bagaimana orang itu mempersiapkan saat2 terakhir itu di masa2 mudanya…

  3. ass.pak. sebelumnya saya sangat salut dengan kberadaan blog bpk ini. perkenalkan nama saya yandri pak.
    saya salah seorang dr jutaan manusia didunia yg mengagumi perjuangan dan semangat beliau. sebelumnya saya mohon maaf klo permintaan saya ini mgkin terlalu berlebihan, mungkin ga pak suatu saat saya bisa membaca buku “The Magic Power Of Our Mind” (Terjemahan bebasnya “Kehebatan Alam Fikiran”)…atau dimana kira2 saya bs mmprolehnya pak. thanx atas jwban dan bantuannya nya pak. tlong di bls ke email saya pak. krn sya bukan seorang blogger.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori