Membahas tentang Hukum Tarik Menariknya The Secret karya Rhonda Byrne, tidak lengkap kalau tidak membahas Hukum Alam lainnya yang juga berpengaruh terhadap kesuksesan kehidupan manusia didunia….
Untuk lebih mudah ditangkap, akan saya ceritakan tentang pengalaman hidup saya tentang Hukum Berkelimpahan ini…
Suatu malam, pada tahun 1992, saat saya menjabat Komandan Polisi Militer Kodam IX Udayana Bali/Nusra, bertempat di Hotel Bali Keraton milik teman saya, saya berdiskusi dengan seorang ibu, sahabat baik saya sekeluarga, keturunan ke 14 dari Sunan Kalijaga, yang berprofesi sebagai Notaris di Jakarta, tapi juga memiliki kelebihan sebagai cenayang (mampu melihat dengan indera keenam..)…
Lupa bagaimana mulainya, tapi saya ingat sekali kata katanya mengagetkan saya sebagai berikut:
“Pak Nurhana, jangan terlalu bergembira dengan fasilitas yang diberikan kawan baik pak Nurhana pemilik hotel ini, walaupun kami sekeluarga diberi fasilitas ruangan President Suite beberapa kamar….apa yang dia berikan ke pak Nurhana tidak ada apa apanya dibandingkan jasa pak Nurhana menjadikan hotel ini dari kelas melati tiga menjadi kelas bintang tiga….tahu pak Nurhana, berapa ratus juta dia harus mengeluarkan dana perusahaan kalau harus mengurus sendiri kenaikan kelas tersebut….?”
Setelah saya narik nafas sejenak saya menjawab: “ Saya membantu menaikan tingkat hotel ini sama sekali gratis, karena saya kenal baik dengan Youp Ave (pada saat itu menjabat Dirjen Pariwisata dan Telekomunikasi)…Saya hanya minta dicek apakah wajar hotel ini hanya diberikelas melati tiga…”…
“Kemudian Youp Ave mengadakan sidak ke hotel ini dan beliau kaget bahwa informasi yang saya berikan itu benar…Lalu beliau panggil Ka Kanwil Parpostel di Denpasar dan diperintahkan agar segera dinaikan menjadi kelas melati tiga secara gratis….”
“Hanya sekitar 2 bulan keluarlah sertifikat pengakuan sebagai Hotel Bintang Tiga dari Kanwil Parpostel Denpasar…gratis…”
Kemudian saya balik bertanya kepada ibu itu: “Mengapa sesuatu yang saya dapatkan secara gratis harus saya minta imbalan uang dari yang saya bantu ?”
Ibu itu tidak kalah sewotnya, lalu berkata: “ Pak Nurhana, saya punya teman kaya pak Nurhana, saat masih bertugas, idealismenya sangat tinggi, tidak mau memanfaatkan peluang yang dimilikinya sewaktu menjabat…Setelah pensiun hidupnya kere, melarat..itulah gambaran pak Nurhana nanti pada saat pensiun, kalau tidak mau memanfaatkan peluang semasa menjabat…!!!”
Wah saya jaditerpancing emosi, lalu saya jawab demikian:” Ibu, saya yakin akan Hukum Berkelimpahan yang diciptakan oleh Tuhan untuk semua umatnya didunia…barang siapa selalu memberikan bantuan kepada orang lai tanpa pamrih, maka Tuhan akan memberikan rezeki yang berkelimpahan…!!!”
Si ibu tertawa sambil tetap berusaha meyakinkan saya: “Pak Nur itu kan hanya cerita dibuku filsafat, kentaannya tidak demikian…percayalah kepada saya…!”
Isteri saya ikut menimpali dan menyerang saya dengan memberi komentar seperti ini “Betul ibu, pak Nurhana ini terlalu sok suci, seperti tidak akan pensiun aja, gak mikir nasib sekolah anak anak kami nanti…”
Saya mulai jengkel dan saya jawab seperti ini: “ Ibu, apa yang saya ceritakan dan yang saya yakini, bukan hanya teori di buku..saya sudah membuktikannya puluhan tahun dengan beberapa bukti sebagai berikut: (lalu saya ceritakan bahwa saya selalu mendapatkan bantuan dan kemudahan, justru setelah tidak menjabat ditempat itu…setiap saya mendapat kesulitan, pasti ada saja yang membantu saya..saya buktikan beberapa kasus nyata…)..”
Akhirnya ibu itu mengendur dan berkata seperti ini: “ Pak Nurhana jangan marah, saya hanya menceritakan pengalaman teman saya yang sesudah pensiun menjadi sengasara karena tidak mau memanfaatkan peluang pada saat masih dinas aktif..”
Saya jawab: “ Saya bukan marah, tapi jangan samaka saya dengan teman ibu itu, saya hanya meyakinkan ibu bahwa justru pemikiran dan persepsi ibu tentang memanfaatka jabatan itu yang menurut saya keliru…Juga tentang nasib teman ibu yang melarat setelah pensiun…Kalau semasa dinas aktifnya dia banyak memanfaatkan kekuasaannya untuk bantu orang lain, tak mungkin setelah pensiun melarat…saya yakin teman ibu itu hanya pasif tak mau memanfaatkan cari uang ceperan, tapi juga pasif dan tidak mau bantu orang lain…malas…”
Dialog tersebut berjalan alot dari jam 12 malam sampai jam 4 pagi, kemudian kami pulang kekamar masing masing dan tidur…
Setelah saya pensiun dan ternyata saya tidak melarat seperti yang diperkirakan ibu tersebut, justru begitu pensiun saya bisa memberangkatkan kedua anak kembar saya sekolah ke Australia dengan biaya ratusan juta tanpa mengemis dari siapapun, kemudian dengan mudah saya memilih tempat kerja di berbagai perusahaan besar dengan jumlah gaji yang jauh lebih besar dari gaji saya sewaktu masih dinas aktif (sampai sekarang…)..ibu tersebut akhirnya mengakui kebenaran saya tentang betapa hebatnya Hukum Berkelimpahan….
Semoga sharing ini membuat adik adik dan teman teman jangan menyalah gunakan wewenang semasa menjabat, tapi justru manfaatkan peluang untuk membantu orang lain yang kesusahan secara ikhlas, tanpa pamrih…maka Hukum Berkelimpahan akan bekerja sendiri tanpa anda minta untuk memeberikan semua kebutuhan anda, tanpa harus dilakukan afirmasi seperti Hukum Tarik Menarik…Inilah yang disebut Pasive Income Spiritual/Religius…
Setiap orang akan menjadi tua dan pensiun, amal perbuatan baik kitalah yang akan menolong kita nantinya, bukan kekuasaan kita dulu….
Setuju ….! tanpa kecuali. Benar sekali pak , saat kita memberi kepada orang lain maka otomatis kita akan mendapatkan kebaikan itu kembali, bahkan berlipat. bukan berarti kebaikan atau kemudahan itu akan dikembalikan lagi oleh orang yang pernah kita tolong , melainkan (bahkan seringkali) justru datang dari pihak lain yang notabene belum kita kenal atau malah sama sekali tidak kita kenal. hal itu semua terjadi dengan catatan, seperti yang bapak utarakan tadi…. dilandasi keihklasan dan niat beribadah kepada-Nya . pengalaman pribadi juga, (bukan bermaksud memuji seseorang/melebih-lebihkan) ayah saya sendiri, orang yang saya kenal dengan baik. beliau saya kenal sebagai pribadi yang sangat tepo sliro , ora tegelan (jawa: tidak tegaan) terhadap seseorang yang beliau lihat sedang dalam kesusahan. bahkan, jika ingin makan di warung makan pinggir jalan pun, jika melihat ada pengemudi becak yang sedang ada disampingnya terlihat kepayahan dan terlihat belum makan, jika ada uang maka akan selalu diajak makan bersama dengan makanan yang sama, beliau bahkan rela untuk tidak makan di tempat seperti itu jika mungkin uang hanya cukup untuk makan sendiri. suatu ketika saat beliau pulang dari lemdik di Bandung, sampai di jogja saat waktu sudah tengah malam, jarak dari jalan dimana beliau turun dari bus sampai ke rumah masih sekitar 5km, pangkalan ojek terdekat pun sudah tidak ada orangnya, beliau putuskan untuk berjalan kaki. baru beberapa langkah kaki tanpa dinyana-nyana ada sesorang (yang tidak dikenal sama sekali) menawarkan untuk memberi tumpangan, ” Mas, monggo kula derekkaken” (mas, mari saya antarkan). tanpa rasa curiga dan lain sebagainya tawan itu diterima dan sampailah beliau di rumah dengan tumpangan tersebut. padahal kalo dipikir saat waktu seperti itu (tengah malam) kalau orang biasa umumnya tidak akan menawarkan tumpangan seperti itu mengingat jalan yang dilewati tersebut terkenal agak angker dan sering ada “orang jahatnya alias begal, dsb” anehnya lagi, biasanya Ayah saya selalu mengajak ngobrol pada orang baru yang bahkan baru dikenal tetapi pada saat itu ada yang beda, bahkan siapa yang memberi tumpangan samapai sekarang masih misteri, apakah “orang betulan” atau bukan, hiii… :). tapi kok ya bisa terjadi seperti itu, pasti ada yang campur tangan dari- Nya dalam cerita ini. tanpa diharapkan, tanpa diminta, tanpa apapun , bantuan pasti akan datang kepada orang yang senantiasa ikhlas dalam perbuatannya membantu sesama. nasihat yang selalu saya ingat dari ayah saya sampai kapanpun , “tulungen sopo wae sing lagi susah mengko bakal sing mbales sing kuasa” ( tolonglah siapa saja yang sedang kesusahan nanti pasti kamu akan dibalas oleh pertolongan lain dari-Nya) dan “le, nek koe sesuk dadi wong gedhe ojo lali karo wong cilik” ( nak, jika kamu kelak jadi orang besar janganlah lupa dengan orang kecil) jadi saya sangat Haqul yakin dan Ainul yakin akan kebenaran tentang tulisan bapak di atas, tanpa kecuali.
Terima kasih
Salam hangat dari Jogja .
Oleh: Seto on Juni 19, 2008
at 5:33 am
seto, asswrwb…
trims atas komentarnya…
semoga teman pembaca lainnya terinspirasi oleh komentar anda…
Oleh: tirtaamijaya on Juni 19, 2008
at 6:26 am
Saya kagum dgn prinsip bapak.
semoga saya bisa memakai prinsip ini dalam kehidupan ini.
bayu
Oleh: bayu on Juni 19, 2008
at 6:55 am
Bayu, asswrwb..
trims atas komentarnya, semoga komentarnya juga memberikan inspirasi kepada pembaca lainnya…
Oleh: tirtaamijaya on Juni 19, 2008
at 7:18 am
Luar biasa prinsip tersebut Bapak.
Mohon bantuan doa agar saya/pembaca juga dapat ikhlas melaksanakan prinsip tersebut
Oleh: Purwandi on Juni 24, 2008
at 3:30 am
purwandi, asswrwb..
trims atas kunjungan dan apresiasinya…
sering bberkujung dan sharing, maka makin lama kita akan mempunyai frekuensi pikiran positif yang sama…amin
Oleh: tirtaamijaya on Juni 24, 2008
at 7:30 am
Assalamu’alaykum pak Nurhana….
terima kasih atas sharingnya….
Insya Allah bermanfaat bagi pembacanya….
wassalam,
Dono
Oleh: Dono Widiatmoko on Juni 27, 2008
at 9:07 am
Alhamdulillah sebuah pembelajaran yang luar biasa. Dalam Islam sangat diajarkan berbuat baik itu harus didasari dengan Ikhlas, semata-mata karena Allah. Syukran pak, Jazakallahu Khairan Katsiira
Oleh: Indra Yunaidi on Juni 27, 2008
at 2:26 pm
Dono Widiatmoko dan Indra Yunaidi, asswrwb…
Trims atas kunjungan dan apresiasi anda berdua…
Saya jawab sekaligus untuk efisiensi….
Saya gembira sekali bahwa pada masa krisis moral sekarang ini masih ada teman teman yang satu frekuensi dengan saya…
Dulu waktu saya masih dinas aktif, oleh rezim orde baru saya dianggap orang nyleneh, melawan arus, sok suci dan keras kepala serta dianggap terlalu jujur…( padahal saya pribadi banyak menyelesaikan kasus nasional sampai tuntas… seperti kasus Xanana Gusmao dan Kasus Marsinah..dll lagi..)
Sekarang setelah rezim orde baru hancur, teman teman saya yang dulu menghina saya bahwa setelah pensiun saya akan jadi orang yang susah hidupnya, karena sok suci, terlalu jujur, …..menjadi kebingungan ….kok setelah pensiun saya tetap survive, tidak tergantung pada belas kasihan organisasi purnawirawan atau paguyuban purnawirawan….
Kenyataannya fisik dan mental saya masih tetap prima, …..dalam usia 65 tahun, saya tidak mengidap penyakit apapun sama sekali…jantung, paru paru, ginjal, lever, mata, tekana darah, gula darah, detik jantung dll…semua dalam keadaan baik dan normal…
Saya masih bisa beraktivitas olah raga apapun termasuk olah raga keras ilmu beladiri penghancuran balok es dll, apalagi hanya tenis dan joging…
Saya masih bisa makan segala makanan yang biasanya terlarang diusia 65 tahun seperti kambing, duren, bebek, empingmlinjo, madu, telor, susus sapi, dll…(tapi tentunya selalu dikontrol agar tidak berlebihan…)
Saya masih bisa melakukan dan menikmati sex marital secara berkwalitas secara rutin…
saya masih punya jabatan di swasta yang bergengsi dan profesional, …
punya salary untuk menyekolahkan anak saya yang bontot disekolah yang terbaik di Surabaya dll,….
padahal sudah sekitar 200 teman seangkatan saya telah meninggal dunia (dari 400 orang…)
dan semua anak saya sukses dalam hidupnya…
Itulah bukti nyata dari Hukum Berkelimpahan yang saya sharingkan diblog ini….semoga para pembaca lebih yakin lagi…
Saya katakan kenapa saya tetap survive dan semua anak anak saya sukses…karena saya bisa melepaskan diri dari berhala kehidupan: Gila Pangkat/jabatan. Gila Harta dan Gila Perempuan…
Walau saya menghormati presiden Suharto, tapi saya tetap bertugas dijalan Allah…bukan dijalan Suharto…walau resikonya pangkat saya terganjal dan pensiun hanya sampai Kolonel…saya ikhlas…
Bagi saya Life begin at Sixty…Kehidupan ini dimulai pada usia 60 tahun….bukan diusia 40 tahun…
Siapa yang ingin diusia 60 tahun masih fit seperti diusia 40 tahun ( keadaan mental fisik 20 tahun lebih muda dari usia waktu…)…silahkan sering baca tips rahasia kehidupan saya pribadi yang saya tulis diblog ini…
Oleh: tirtaamijaya on Juni 28, 2008
at 10:06 am
Ass wr wb
Pengalaman yang menarik sekali pak Tirta, Allah pasti membalas kebaikan dengan kebaikan pula sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar Rahman ayat 60: ” Dan tiadalah balasan kebaikan melainkan kebaikan pula” . Janji Allah tidak pernah meleset. Orang yang selalu berbuat baik pasti akan mendapat kebaikan pula.
Bahkan dalam surat An Nahl ayat 97 Allah menjamin orang yang berbuat baik dan ber-iman padaNya akan mendapat kehidupan yang baik di dunia ini dan dibalasi kebaikannya dengan balasan yang berlipat ganda
” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(An Nahl 97)
Pak Tirta dengan pengalaman hidupnya telah membuktikan kebenaran firman Allah tersebut diatas. Saya yakin bagi orang yang istiqomah dan sabar meniru apa yang dilakukan pak Tirta akan mendapatkan hasil yang sama pula. Janji Allah tidak pernah meleset.
Salam buat pak Tirta sekeluarga
Oleh: Fadhil Z.A on Oktober 31, 2008
at 10:44 pm