Oleh: tirtaamijaya | Juli 2, 2008

Pemersatu Kelas Harvard

Mengemas tema besar perubahan perilaku dan gaya politik, Obama mengajak publik Amerika jeli me­milih prioritas. Setelah orang­tuanya bercerai, ia diboyong ke Jakarta pada 1967 oleh sang ibu yang menikah dengan warga Indo­nesia, Lolo Soetoro.

Siapa pun yang bakal membawa tiket Partai Demokrat untuk pemilihan presiden November nanti, publik Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir ini mendapat suguhan pertarungan yang unik, imbang dan dinamis. Kedua calon terkuat dari partai itu melewati tahap demi tahap pemilihan dengan persaingan ketat untuk menjadi “yang pertama.”

Senator New York, Hillary Clinton ingin menjadi perempuan pertama yang menguasai Kantor Oval di Gedung Putih. Lawan terberatnya, Senator Illinois, Ba­rack Obama pun ingin tercatat dalam se­jarah sebagai keturunan Afrika pertama yang menjadi presiden Amerika Serikat. Suka tidak suka, persaingan kedua bakal calon itu mendapat perhatian lebih meriah dari pers ketimbang persaingan di kubu Partai Republik.

Itu, antara lain, disebabkan oleh terus merosotnya popularitas pemerintahan Re­publiken di bawah Presiden George W. Bush, yang terperangkap dalam kubangan tanpa ujung perang di Irak sejak 2003. Isu perang Irak menjadi salah satu materi terpanas dalam persaingan Clinton-Obama untuk memikat pendukung. Harap maklum, meski sama-sama senator Demokrat, mereka berbeda sikap dalam hal ini.

Senator Clinton turut menyetujui ke­putusan Bush menggelar pasukan dan mesin perang di Irak, sementara Obama berada di garda depan barisan penentang. Di sinilah Obama berhasil menyeruak ke permukaan, dengan mengemas isu perang Irak dalam satu tema besar: perubahan perilaku dan gaya politik. Tema itu me­nguat di tengah terpaan problem berat ekonomi yang melanda Amerika, termasuk skandal korporat-korporat besar.

Bisa dikatakan, isu perang Irak adalah salah satu pendongkrak popularitas Oba­ma, terutama setelah dua pidatonya yang fenomenal. Yang pertama, pada Oktober 2002 di Federal Plaza, Chicago, bersama aktivis pembela hak-hak Sipil Jesse Jackson, beberapa bulan sebelum perang Irak dimulai.

Saat menyampaikan pidato yang me­mukau ribuan orang itu, Obama ma­sih berstatus sebagai senator tingkat negara bagian, Illinois. Ia menegaskan, dirinya bukan penentang segala perang. Ia bercerita, ayahnya langsung mendaftar menjadi sukarelawan sehari setelah Pearl Harbour dibom Jepang. Obama sendiri juga ikut mendukung Bush menggelar perang di Afghanistan untuk memburu Osama Bin Ladin setelah runtuhnya Me­nara Kembar di New York pada 11 September 2001.

“Yang saya tentang adalah perang bodoh, perang ngawur, yang bukan didasarkan pada akal sehat, tapi nafsu, bukan pada prinsip, tapi politik,” katanya, disambut tepuk tangan riuh hadirin. Obama menyebut nama beberapa pena­sihat Bush, yang dinilainya berusaha me­ngalihkan perhatian bangsa dari berbagai masalah, seperti kemiskinan, skandal korporat, rendahnya jaminan sosial dan lain-lain. Mereka adalah Karl Rove, Richard Perle dan Paul Wolfowitz —yang disebut terakhir adalah bekas dutabesar Amerika di Jakarta, dan bekas wakil menteri pertahanan yang kemudian menjadi Presiden Bank Dunia selama dua tahun pada 2005-2007.

Menurut Obama, bila Presiden Bush memang ingin perang, banyak medan perang yang perlu lebih diprioritaskan. Bush, katanya, seharusnya lebih fokus memperkuat perjanjian nonproliferasi nuklir, membantu sekutu di Timur Te­ngah seperti Mesir dan Arab Saudi untuk menjadi lebih demokratis, agar tidak muncul kaum muda tanpa pendidikan, tanpa prospek, tanpa harapan, sehingga menjadi sasaran empuk rekrutmen ja­ringan teroris.

“Anda ingin perang, Presiden Bush? Mari kita berperang untuk menyapih diri kita dari minyak Timur Tengah, melalui kebijakan energi yang tidak semata-mata memenuhi kepentingan Exxon dan Mobil,” kata Obama.

Obama kembali mencuri per­hatian publik Amerika dengan pidatonya pada Konvensi Nasio­nal Partai Demokrat di Boston, Masschusetts, Juli 2004. Itu terjadi empat bulan sebelum ia terpilih menjadi satu-satunya anggota Senat nasional dari kulit hitam pada periode ini.

Obama mengatakan, tak ada orang yang bisa berharap pe­merintah mampu mengatasi semua per­soalan. “Tapi, mereka merasa, jauh di lubuk hati mereka, bahwa hanya dengan sedikit perubahan prioritas, kita bisa men­jamin setiap anak di Amerika punya kehidupan yang layak, dan pintu peluang tetap terbuka untuk semua. Mereka tahu, kita bisa berbuat lebih baik. Dan mereka menginginkan pilihan itu.”

Seraya memertanyakan kembali ma­najemen pemerintahan Bush atas Perang Irak, Obama mengulas tentang nasib anggota Korps Marinir Kopral Seamus Ahern dari Illionis. “Apakah kita melayani Seamus sebagaimana dia melayani kita?” tanya Obama retoris.

Bagian yang paling banyak menyedot perhatian publik dari isi pidato Obama adalah tentang persatuan nasional. Me­nurut dia, ada orang-orang yang ingin memecah-belah negara menjadi Negara Merah dan Negara Biru. Negara Merah untuk Republiken, Negara Biru untuk Demokrat. Ia menyesalkan, persaingan itu membuat para penyelenggara negara tidak fokus mengatasi permasalahan, dan sinergi potensi-potensi yang dimiliki bangsa pun terhambat.

“Ada patriot yang menentang perang di Irak, dan patriot yang tidak mendukung perang di Irak. Tapi, kita semua satu, semua kita bersumpah setia pada Stars and Stripes (bendera nasional), semua kita membela Amerika Serikat,” katanya.

Obama memang punya rekam jejak yang membuatnya pantas bicara tentang persatuan. Teman-teman kuliah dan man­tan dosennya di Harvard mengenang dia sebagai figur pemersatu berbakat, yang mampu menyatukan berbagai kelompok di kampus.

Lahir di Hawaii 4 Agustus 1961, Oba­ma pertama kali mengasah bakat politiknya ketika masih belajar di Harvard Law School. Ketika datang pertama kali ke kampus bergengsi itu di usia 27 tahun pada 1988, ia bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang mahasiswa biasa keturunan Afri­ka. Tapi, kelak ia menjadi orang kulit hi­tam pertama yang menduduki jabatan bergengsi, Presiden Jurnal Harvard Law Review.

Putra pasangan ibu kulit putih Ame­rika, Ann Durham dan ayah kulit hitam Kenya Barack Obama Sr., itu meraih ge­lar juris doctor (JD) dari Harvard pa­da 1991 dengan predikat magna cum laude, dan kemudian menjadi dosen se­nior Hukum Konstitusi di University of Chicago Law School, Illinois. Obama, yang menurut sebagian pengamat politik punya potensi menggaet dukungan publik kulit putih maupun kulit hitam karena darah campurannya, melalui jalan hidup yang cukup berwarna.

Setelah orangtuanya bercerai, ia dibo­yong ke Jakarta pada 1967 oleh sang ibu yang menikah dengan warga Indonesia, Lolo Soetoro. Tinggal di Jakarta Pusat, Obama tercatat pernah menjadi murid di SDK Frasiskus Asisi dan SD Negeri 01 Menteng. Namun, belum sampai tamat SD, Obama kembali Honolulu dan tinggal bersama keluarga ibunya.

Dalam memoarnya yang ber­judul Dreams from My Father, Obama menggambarkan peng­alamannya tumbuh dalam keluarga kelas menengah Amerika dari pihak sang ibu. Pengetahuannya tentang ayah Afrika, yang hanya sempat bertemu kembali sekali saat kunjungan singkat pada 1971, terutama datang dari cerita-cerita keluarga dan foto. “Bahwa ayah sama sekali tidak mirip dengan orang-orang di sekitarku —bahwa dia hitam dan ibu seputih susu—tak pernah menyembul dalam pikiranku.”

Lulus sekolah menengah atas, Oba­ma pindah ke Los Angeles, kuliah di Occidental College. Dua tahun kemudian ia pindah ke Columbia University di Kota New York, belajar ilmu politik dengan spesialisasi hubungan internasional. Gelar BA diraihnya pada 1983, lalu bekerja di Business International Corporation and NYPRING sebelum pindah ke Chi­cago untuk menjadi pekerja sosial sebagai Direktur Pengembangan Proyek Komunitas. Lima tahun kemudian, baru ia masuk Harvard Law School. Yanto Musthofa (dari berbagai sumber)

spacer
Copyright ©PT. Arga Tilanta, 2004 – 2008

Beri tanggapan

Your response:

Kategori