Oleh: tirtaamijaya | November 8, 2009

MEMAHAMI FENOMENA PERTARUNGAN ANTARA “CICAK DAN BUAYA” DARI PERSPEKTIF SPIRITUAL

Belakangan ini hampir semua masyarakat Indonesia perhatiannya tersedot oleh kisah pertarungan sengit antara “Cicak” dan ” Buaya” (istilah mantan Kabareskrim Polri yang dinon aktifkan)…

Keberanian Mahkamah Konstitusi yang menyiarkan hasil rekaman pembicaraan Anggodo dengan berbagai oknum pejabat penegak hukum di Indonesia secra terbuka dimedia TV yang bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia, patut mendapat acungan jempol, mendapat pujian dari sebagian besar tokoh keadilan hukum di Indonesia, sekaligus  membuat miris hampir semua pendengarnya, …malu, marah, jijik dsb….tapi juga ada protes dari kelompok tertentu yang nama baiknya merasa terusik…..

Berbagai pakar dan pengamat hukum dan politik banyak memberikan komentar sesuai persepsinya masing masing….

Saya sebagai pengamat spiritual,ingin menyumbangkan  sharing persepsi saya dari sudut pandang spiritual sebagai berikut:

1. Fenomena pertarungan Cicak dan Buaya yang sedang berlangsung, dengan semua ekses yang terjadi, tidak lepas dari Grand Scenario Allah SWT dalam rangka menegakan Amar Maruf Nahi Munkar, di Indonesia yang sudah carut marut tatanan kehidupan spiritualnya, dimana sebagian besar rakyat dan pemimpinnya sudah memberhalakan Kekayaan/Materi, Tahta/Kekuasaan dan Nafsu Seks, sudah lupa akan keberadaan Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, yang Maha Tahu dan Maha Segalanya….Tak ada seorang pun mampu menyembunyikan kejahatan kepadaNya….Kalau Allah berniat membuka aib seseorang, taka ada kekuasaan apapun yang mampu menghalanginya…!!!

2. Dihadapan Allah, kekuasaan seorang setingkat Presiden Kepala Negara dan Pemerintahanpun akan sangat mudah dibuka aibnya, apalagi para pejabat dibawah itu…semua bisa dihancurkan kalau Allah menghendaki, janganlah kita menjadi sangat sombong dan mabuk kekuasaan pada saat berkuasa…..itu semua hanya titipan amanah dari Allah utk berlaku Rahmatan Lil Alamin, bukan justru berbuat zalim dan munkar…

3. Abad 21 adalah abad spiritual, dimana hanya mereka yang mempelajari, menguasai dan menerapkan semua ketentuan spiritual dari Allah SWT saja yang akan selamat dari kehancuran ….mereka yang selama ini masih berbuat dzalim akan dibuka aibnya dan dihancurkam kekuasaannya, nama baiknya…dan mereka yang selama ini berbuat kebajikan dijalan Allah tapi terzalimi oleh kelompok penguasa yang zalim, pasti akan dinaikan derajatnya…

4. Karena itu saya ,menghimbau kepada semua pihak, baik kelompok Cicak dan para pendukungnya, termasuk lebih dari satu juta Face Booker (termasuk saya..), maupun kelompok  Buaya dan pendukungnya (termasuk oknum anggota DPR RI yang membela Buaya..)….janganlah bingung dan ketakutan utk melakukan amar maruf nahi munkar, menegakan kebenaran dan menghancurkan kebatilan dalam lingkungannya sendiri…jangan justru berusaha menutupi kejahatan dimata Tuhan Allah, karena justru akan semakin dibuka aibnya oleh Allah….Bola Salju akan terus bergulir menyeret semua pejabat yang membela kezaliman dan menutupi kejahatan, yang telah menutup mata hatinya sehingga menderita penyakit Buta Hati…sadarlah sebelum terlambat….

5. Tuhan Allah sebenarnya Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh umatnya…tapi juga Maha Penegak Keadilan dan Hukum Allah…

 

Semoga sharing ini dibaca oleh mereka yang berwenang mengambil keputusan yang sangat menentukan dan menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sesuai dengan Falsafah Pancasila dan UUD 1945….Amin…

 

 

 

 


Tanggapan

  1. Asslamu’alaikum wr. wb
    Saya setuju sekali dengan pendapat ayah, akan tetapi saya masih sedikit bingung mengenai kasus tersebut dengan adanya berbagai pernyataan dari kedua pihak yang bertarung. dikarenakan saya tidak mengikutinya secara terus menerus dan cenderung menjadi bosan melihatnya. Pada prinspnya saya sangat mendukung pembersihan birokrasi dari orang2 yang kotor dan tentunya korupsi.

    Salam kenal

  2. Pertarungan Buaya-Cicak itu sebenarnya bermula dari “tersadapnya” telepon Susno “Buaya” Duaji ketika telpon ke seseorang yang sedang disadap KPK (Candra-Bibit). Sehingga, dia marah dan menetapkan Bibit-Candra sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang (menyadap tadi). Lo, kalau Susno merasa tidak bersalah, ngapain dia harus takut tersadap? Cilakanya, Kapolri Bambang Hendarso Danuri terkesan lebih banyak melindungi si-Buaya ini. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di opini (www.koransuroboyo.com). Salam Sukses Pak Nur.

  3. Ass wr wb,

    Fenomena “cicak dan buaya” mungkin banyak terjadi di lingkungan kita masing-masing. Hanya saja karena ruang lingkupnya kecil dan tidak terekspos media, hal-hal tersebut sering terlewatkan oleh kita, bahkan ada yg tidak menyadarinya kalau mereka adalah cicak atau buaya itu sendiri.
    Saya setuju sekali Pak, kalau kita jangan pernah takut dan bingung untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar meskipun itu kadang sangat menyakitkan sekali buat kita.
    Bagi mereka2 yg zalim, Allah Maha Melihat semua perbuatannya dan pasti akan ada balasan yg setimpal di dunia ini dan akhirat nanti. Bagi mereka yg dizalimi, kesabaran dan bertawaqal kepada Allah mungkin itu jalan yg terbaik.

    Wassalam.

  4. assalammualaikum…,sebaiknya buaya2 itu di buat kerajinan kulit aja biar ga bisa gigit kemana2.buat pak kapolri anda sebaiknya lebih selektif lagi menerima laporan dari org2 dibawah bpk,bukan tidak mungkin mereka sengaja membuat laporan yang sebenarnya dibuat2 untuk bisa mengigit cicak…semoga kebenaran segera terungkap…*

  5. ass
    salam kenal
    di negeri kita tercinta ini opini masyarakat berkembang sedemikian rupa……
    sehingga opini2 ini membentuk satu kesatuan yg solid.
    pasti ada pro dan kontra itukan wajar kan pak???
    yng penting istiqomah wae kan enak….
    gitu wae kok repot.
    tentunya pada alquran dan as sunnah lo….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori